Rabu, 11 Mei 2016

Rinascere

Rumah Sakit XXXXX, 06 Desember xxxx

Kamar 108

Kamar itu adalah salah satu kamar VVIP rumah sakit yang tidak bisa digunakan oleh sembarang orang. Ukuran kamar itu sendiri berbeda dibanding kan dengan kamar- kamar lain yang yang hanya memiliki ukuran relatif kecil, dengan fasilitas yang bisa dibilang fantastis ( AC, Dispenser, Kulkas Mini, dan Semua peralatan medis yang di perlukan untuk memonitor kondisi pasien di kamar itu ).

Di kasur kamar itu terbaring seorang wanita yang nampak sedang tertidur lelap-jika bukan karena selang IV dan alat bantu pernafasan yang terhudung ketubuhnya. Wanita itu bisa digolongkan cantik, dengan rambut hitam lurusnya yang panjang, bulu mata yang lebat dan lentik, kulit seputih salju, dan juga bibir yang berwarna merah pucat. Disamping-nya terlihat seorang Pria berperawakan tinggi sedang menatap wajah damainya.

"Aria..." Nama itu lolos dengan lembut dari mulut pria itu.

"Aria kumohon bangunlah, Kau sudah tidur terlalu lama! Apakah kau tidak ingin melihat putri-kita? Dia sangat cantik, aku memberinya nama Doule. Dia cantik seperti dirimu! Rambut Blonde-nya dan juga mata yang sangat indah seperti es abadi, Icy Blue yang begitu indah. Dia adalah bayi yang hyperactive, dia akan menangis sepanjang hari jika tidak berada didekatmu atau diriku... Bangunlah aku juga sangat merindukan mu. " Pria itu bercerita dengan senyum lembut terpatri di wajah tampannya, dan juga tatapan yang penuh dengan cinta, kerinduan, dan kasih sayang.

Pandangannya berpaling kearah putrinya- Doule yang sedang tertidur dengan pulas, setelah lelah karena menangis, sebelum akhirnya berhasil ditenangkan dengan sebotol susu. Putrinya itu tertidur dalam sebuah keranjang bayi yang terletak disisi lain kasur Ibunya. Senyum lembut kembali terpasang di bibirnya saat memandang putrinya, sebelum senyum itu menghilang saat melihat kearah keranjang bayi lain yang berada disudut kamar. Digantikan dengan tatapan penuh dengan kebencian.

'Berbeda dengan anak sialan disana itu, karena dia... Karena dia kau harus terbaring disini!! Karena DIA Doule harus merasa sedih!! Karena Dia!! Karena dia aku tidak bisa melihat senyummu.'

"Kau tau Aria monster itu sungguh berbeda dengan Doule kita yang begitu cantik, Dia memiliki rambut silver yang mengingatkanku bulan yang selalu dikelilingi oleh kegelapan, dan matanya... matanya yang berwarna Curulean itu begitu mengingatkan ku padamu!!! Aku sangat membenci Mata itu, setiap kali aku melihat mata itu aku selalu mengingatmu dan hal itu. Mahluk itu adalah seekor iblis yang menjajikan kesengsaraan dan kesakitan. Karena monster itu kau jadi begini, jika saja dia tidak lahir! Maka mungkin saja kau sedang menimang Doule dan tersenyum dengan indah di hadapanku." Ujarnya dengan pelan, tersenyum dengan pahit sebelum kembali melemparkan tatapan penuh kebencian pada keranjang bayi di sudut kamar itu.

'AKAN KUPASTIKAN ANAK ITU HIDUP DALAM NERAKA. AKAN KUPASTIKAN DIA AKAN MERASA BAHWA MATI ITU LEBIH MENYENANGKAN KETUMBANG MENJALANI HIDUP INI, HIDUPNYA YANG AKAN KUPASTIKAN DENGAN JANJI- JANJI KESENGSARAAN DAN KEPEDIHAN. LIHAT SAJA NANTI MONSTER KAU AKAN MENDERITA, KARENA TELAH MELAKUKAN INI PADA KELUARGAKU.'
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Plak

Dengan ringan tangan itu mendarat di pipi gadis mungil itu. Meninggalkan jejak merah yang meneriakan seberapa keras tamparan itu, bahkan sampai berhasil membuat sudur bibirnya berdarah. Dan seakan belum puas dengan tamparan itu pria itu melanjutkan siksaan itu dengan sesuatu yang tidak akan meninggalkan jejak pada fisik gadis kecil itu, tapi pada mental-hati gadis kecil berambut perak itu.

"Sudah kukatakan bukan, jangan menggangu teman- teman saudarimu!! Lihat apa yang kau perbuat pada mereka. Mereka takut padamu! Kau beruntung karena aku masih sibuk karena hari ini adalah ulang tahun Doule." Kata- kata itu keluar dengan mudahnya, tidak memberikan sedikit ruangpun untuk argumentasi atau pun penjelasan dari gadis kecil tersebut. Gadis itu tau jika ayahnya sedang marah padanya-seperti saat ini, maka dia lebih baik diam jika tidak ayahnya akan memberikan hukuman yang lebih buruk dari pada tamparan dan teriakan tadi.

"Moura!" Teriak pria itu, memanggil salah satu maidnya yang berdiri di luar kamar. Terdengar bunyi pintu dibuka kemudian di tutup kembali.

"Ya tuan?" Jawab maid itu sambil memandang cemas kearah nona mudanya yang berdiri terpaku di tengah kamar itu.

"Bagaimana dengan persiapan pesta ulang tahun Doule? Apa semuanya sudah siap?"

"Ya tuan, semuanya sudah siap. Tinggal menunggu para tamu datang kemudian anda dan nona Doule untuk memulai acara ini."

"Bagus." Balasnya merasa puas dengan jawaban maid itu. Kemudian berjalan menuju kearah putrinya- Doule yang berdiri di sudut kamar itu dengan senyum manis yang terpasang di wajah, cukup puas dengan hukuman yang di terima saudaranya tadi.

"Come'n princess, kita harus mempersiapkan dirimu untuk pesta." Pria itu tersenyum sambil mengambil tangan kecil Doule dan menggenggamnya dengan tangannya yang lebih besar. Kemudian menuntunnya keluar dari kamar itu.Setelah memastikan bahwa kedua orang itu benar-benar sudah pergi Moura dengan segera berjalan kearah nona mudanya.

"Nona?" Panggilnya mengeluarkan gadis itu dari lamunannya.

"Y... ya Moura? Ada apa?"

"Pipi anda. Kita harus merawatnya karena itu akan jadi memar Nona." Moura menjelaskan dengan senyum lembut dan tatapan penuh kekhawatiran.

"Oh. Kalau begitu bagaimana kalau kau mengambil obat-obat, atau apapun yang di perlukan untuk mengobatinya?" Senyum terpatri di wajah gadis itu. Dia tidak ingin membuat Moura khawatir padanya. Rasa kekhawatiran Moura sedikit berkurang karena melihat senyum itu. Tapi rasa khawatir itu belum sepenuhnya hilang sampai ia bisa memastikan bahwa nona-nya baik-baik saja.

"Baiklah nona. Sebaiknya anda membersihkan diri dulu selagi saya pergi mengambil obat dan mempersiapkan kompres untuk anda." Jawab Moura kemudian pamit dengan sedikit membungkukkan badannya kemudian berjalan keluar dari kamar itu.

Bersamaan dengan keluarnya Moura senyum itu hilang seketika menyisakan bibir yang membentuk garis lurus diwajah gadis itu. Dia kemudian kembali memutar kejadian tadi- kejadian yang membuat ayahnya marah dan semakin tidak menyukainya-bisa dibilang benci.

Awalnya dia sedang membaca buku di kamarnya yang terletak di lantai teratas rumah-mansion itu. Hanya kamarnya saja yang berada dilantai itu, juga beberapa ruangan tak terpakai yang ia tahu sering di kunjungi oleh ayahnya jika sedang sedih- Ruangan tempat ibunya sering menhabiskan waktu- itu yang ia tahu.

Dia tidak tau bagaimana teman-teman Doule bisa berada dilantai itu-karena setaunya tidak sembarang orang yang diperbolehkan menginjakkan kaki dilantai ini, dan lebih lagi menemukan dan membuka pintu kamarnya-yang saat itu sedang tidak terkunci. Begitu pintu itu terbuka teman-teman Doule terlihat terkejut ketika melihatnya, sebelum pada akhirnya berteriak dan berlari menjauhi kamarnya, kenapa? Bukankah seharusnya dia yang terkejut karena pintu kamarnya di buka tiba-tiba bukan? Dia sendiri tidak tau kenapa teman- teman saudarinya-Doule begitu takut padanya.

'Mungkin karena rambut silver-nya ini? Ya pasti karena itu.' Pikirnya sambil memegangi pipinya yang masih terasa perih akibat tamparan dari ayahnya tadi. Diseretnya kaki yang masih agak lemas karena shock sementara tadi, terlebih lagi dia belum memakan apapun sedari pagi. Langkah gadis itu berhenti didepan cermin. Tatapnya lurus menatap pantulan seorang gadis kecil berambut perak dan tatapan sepasang mata Ruby yang balik menatapnya. Dipipinya terdapat bekas merah yang sudah berubah menjadi ungu muda. Sudut bibirnya berdarah.

'Apa yang salah denganku? Aku hanya terlahir dengan rambut silver ini. Kenapa mereka takut dan tidak menyukaiku? Aku tidak meminta untuk terlahir seperti ini.' Suara pintu terbuka menyadarkannya dari lamunan. Gadis itu menoleh kearah pintu, disana berdiri seorang wanita tua bermana biru. Sembari memegang kotak P3K dan juga sebuah kompres ditangannya.

"Ciel..." Panggil wanita tua itu. Sembari melangkah masuk dan berjalan kearah kasur single ditengah ruangan itu, lalu duduk ditepinya.

"Ya Grandma?" Balas gadia berambut perak itu- Ciel. Mematap kearah pantulan wanita itu di cermin. Ciel... hanya Grandmanya yang suka memanggilnya seperti itu. Ciel-Cielo.

"Kudengar dari Moura kalau ayahmu baru saja menghukummu. Kemarilah biar Grandma obati lebam dan lukamu itu." Ucapnya dengan lembut sambil menepuk-nepuk tempat disampingnya. Menyuruh Cielo duduk disampingnya.

"..." Dengan kaku Cielo berbalik dan melangkah kearah grandmanya, kemudian duduk di tempat yang diminta oleh grandmanya. Grandmanya kemudian memberikan kompres yang berisi es itu padanya kemudian menunjuk kearah pipinya yang memar. Lalu kembali disibukkan mengambil kapas, kemudian membasahinya dengan sedikit alkohol, lalu menatapnya.

"Ini akan sedikit sakit Ciel...". Sebelum meletakkan potongan kapas tadi ke luka dibibirnya. Ciel hanya mengeluarkan sedikit desisan- dia sudah terbiasa dengan rasa perih akibat luka yang bersentuhan dengan alkohol- kamar itu kembali hening setelah desisan rasa sakit itu berhenti meninggalkan kekosongan yang menggantung di udara. Tidak ada yang mengeluarkam suara. Ciel kembali kembali terdiam kembali melamun. Sedangkan Grandmanya masih duduk diposisi yang sama memandanginya dengan tatapan sedih yang bercampur dengan kasih sayang.'Oh... Ciel, cucuku yang malang. Kenapa takdir begitu kejam padamu? Kau bahkan tidak meminta untuk semua ini.'

"Grandma..?" Lamunannya buyar seketika ketika mendengar suara cucunya.

"Ya Ciel?" Jawabnya lembut sambil menatap mata kemudian mengelus pipi Mare- yang tidak lebam- dengan penuh kehati-hatian dan kasih sayang.

"..ku..." Cucunya itu kembali menunduk dan mengeluarkan suara yang tidak jelas mebuatnya bingung. Dipegangnya dagu cucunya itu kemudian mengangkat wajahnya agar ia bisa melihat wajah cucunya itu. Kemudian memasang senyum lembut penuh pengertian untuk Mare.

"Bicaralah... Grandma akan mendengarkan." Mare kembali menunduk, dan memberanika diri untuk menatap wajah Grandmanya. "A... aku... Namaku? Siapa yang menamaiku? Tidak mungkin jika ayah yang menamiku bukan? Ia selalu memanggil dengan sebuatan anak iblis atau monster...ah, jadi itu yang ingin ditanyakan cucunya.Wanita tua itu kemudian tersenyum lembut lalu menjawab pertanyaan cucunya "Mare Cielo Sinclair... Kau tau kalau nama belakangmu menggunakan nama dari pihak ibu, keluargaku bukan?"

"Ya"

"Kau tau arti dari namamu?" Gadis itu hanya menggeleng menandakan bahwa ia sama sekali tidak tau.

"Mare... Mare berarti laut. Laut yang menembus segala celah, tidak peduli sekecil apapun celah itu. Tidak ada yang bisa membatasinya. Juga laut yang membelah dan membatasi segalanya. Sedangkan Cielo berarti langit atau surga. Langit yang menerima dan merengkuh segalanya. Seperti langit yang menerima Badai yang tidak pernah tenang, Hujan yang turun membawa ketenangan ataupun kerusakan, Petir yang merusak, Awan yang tak pernah terikat-bebas namun tetap bersamanya, Matahari yang menerangi, dan merengkuh Kabut yang menyimpan dan menyembunyikan berbagai misteri."

Gadis itu diam mencerna penjelasan dari Grandmanya sebelum kembali mengeluarkan suara untuk bertanya.

"Bagaimana dengan langit malam?"

"Hm... langit malam tetaplah langit, kau tau Ciel.. Dia tetaplah langit yang menerima segalanya. Langit malam menerima bulan dan bintang sebagai penerang, dan juga menerima-merengkuh kegelapan yang ada sebelum fajar menyingsing membawa cahaya yang menghilangkan keelapan. Seberapa berbedanya keduanya tapi langit tetaplah langit."

"Jadi karena itu Grandma lebih suka memanggilku Cielo dari pada Mare?"

"Bisa dibilang begitu, tapi Grandma hanya ingin memanggilmu Ciel, karena Grandma ingin menjadikan itu panggilan yang hanya digunakan olehku. Semua orang lebih suka memanggilmu Mare bukan?" Gadis itu hanya mengangguk.

"Grandma apa menurutmu aku bisa menjadi langit-Cielo lanyaknya arti namaku?"

"Kenapa tidak? Kau pasti bisa Ciel." Dielusnya mahkota perak cucuknya itu.Ciel mendongak menatap lurus mata Grandmanya dengan air mata yang siap jatuh kapan saja dari matanya. "Tapi kau tau.. aku berbeda dengan yang lain. Mereka menganggapku seperti monster, bahkan Dad menganggap diriku adalah iblis." Air mata itu akhirnya jatuh mengalir dan membasahi pipi Ciel.

"Lalu kenapa? Kau memang berbeda atau dalam anggapan Grandma unik Cielo. Hanya karena kau memiliki rambut berwarna hitam dan mata yang berwarna Ruby, bukan berarti kau bukan manusia. Kau hanya berbeda cucukku dan manfaatkanlah perbedaanmu itu Ciel." Dihapusnya air mata yang mengalir dipipi cucuknya. "Masih banyak orang diluar sana sama sepertimu, bahkan mungkin saja mereka mengalami hal yang lebih buruk dari pada dirimu Ciel."Ciel terdiam mendengar ungkapan dari Grandmanya. Ya masih banak orang diluar sana yang memiliki nasib lebih buruk darinya, dan setiadaknya dia memiliki Grandma dan Moura yang selalu berada disisinya. Sambil mengangguk- membenarkan ucapan Grandmanya, Ciel menjawab "Aku memiliki Grandma dan Moura yang selalu berada disisiku. Jadi itu adalah hal yang benar- benar baguskan Grandma?".

Ditatapnya dengan lembut cucunya dengan tatapan sedih. "Ya Ciel itu adalah hal yang benar- benar baik. Dan Ciel jadilah langit.. jadilah langit yang menerima semuanya. Kau pasti melakukannya- menjadi langit itu. Kau tidak ingin melihat orang lain tersakiti bukan?" Ciel mengangguk.

"Kalau begitu kau harus menjadi langit itu langit yang menerima dan merengkuh semuanya."

"Ya Grandma..." sebuah senyum manis dan penuh dengan harapan menghiasi wajah Cielo. Melihat cucunya tersenyum, wanita itu tidak bisa menahan dan membalas senyuman Ciel dengan sebuah senyuman lembut penuh dengan rasa bangga, kasih sayang, dan harapan. Lalu wanita itu mengambil sebuah kotak kecil berwarna orange lembut dengan belutan pita perak. Membawanya kehadapan Cielo.

"Selamat ulang tahun cucuku Cielo." Kata-kata itu terucap penuh dengan ketulusan. Sementara Cielo hanya diam dan tak tahu bahwa matanya kembali meneteskan air mata-bahagia. Dipelukanya Grandmanya dengan rasa bahagia.

"Thank  you Grandma."

"It's okay Honey. It's you're birthday afterall." Wanita itu membalas pelukan cucunya dan mengelus rambut perak yang sekarang sudah tumbuh sampai pertengahan punggung Cielo.

"Grandma!!" Suara yang berasal dari pintu itu menghancurkan suasana bahagia itu dalam seketika. Dipintu itu berdiri seorang gadis kecil berambut hitam dan bermata Shapire-Doule, wajah gadis itu dihiasi dengan ekspresi tidak senang.

'Hari ini adalah ulang tahunku dan Grandma malah ada disini bersama dengan Monster itu.'

Doule kemuadian melangkah masuk dan berjalan menuju arah Grandmanya, lalu menarik saudarinya-Ciel menjauh sebelum memegang tangan wanita tua itu. "Grandma!! Ayo pestanya sudah akan dimulai. Grandma juga sudah berjanji akan menemaniku karena Dad akan sibuk dengan para tamu!!"

Wanita tua itu hanya terkekeh sebelum menyuruh Doule agar lebih dulu turun dan menunggunya diluar karena dia masih ingin berbicaranya dengan Cielo. Tapi bukan Doule namanya jika menyerah hanya karena disuruh.

"Tapi Grandma kenapa kau mau disini bersama dengannya!! Kau harus keluar dari sini karena mons-" "Doule tunggulah diluar sekarang." Grandmanya berbicara dengan suara yang penuh dengan penekanan dan perintah-bahwa ia harus menurut. Doule yang mendengar itu dengan berat hati melangkah keluar dari kamar itu. Menunggu Grandmanya.

'Cih!! Ini semua karena Mare, Grandma sampai memarahiku. Lihat saja nanti akan kulaporkan pada Daddy.' Dia mengamati interaksi antara Grandmanya dan Monster itu.'

Sedangkan di dalam ruangan itu Grandmanya dengan lembut menyuruh Ciel agar membuka hadiahnya dan meminta maaf bahwa ia tidak bisa menemani cucunya itu di hari ulang tahunnya karena ia sudah berjanji akan menemani Doule di acara pesta ulang tahunnya-mereka.

"Oh ya! Ciel?" Langkah wanita tua itu terhenti.

"Ya Grandma?"

"Kau tahu Honey? Jika suatu saat kau harus pergi dari sini, kuharap kau akan menjadi langit dan hal pertama kau temui adalah awan."

"Awan?" Balas Cielo, dia bingung awan? Bukannya awan tidak pernah menetap dan tidak terikat? Seakan mengerti dengan kebingungan cucunya wanita itu membalas. "Awan memang tidak menetap dan tidak terikat, tapi jangan lupa kalau kemanapun langit pergi dia akan tetap bersama dengannya. Bahkan jika elemen lain harus pergi dia akan tetap bersama dengan langit."

"Seperti saat matahari yang harus pergi dan digantikan oleh bulan saat langit menjadi gelap? Seperti saat malam?"

"Ya seperti saat malam yang lain mungkin tidak bisa terus menemani langit. Tapi awan selalu ada bukan?" Setelah mendapatkan anggukan dari Ciel, wanita itu melanjutkan langkahnya keluar dari kamar itu menghampiri Doule yang sudah menunggunya diluar.

"C'mon Doule" diulurkan tangannya pada Doule, yang tentu diterima Doule dengan senang hati sebelum berlari menarik Grandmanya ikut berlari bersamanya. Doule terus berlari tidak mengindahkan seruan Grandmanya untuk berhenti berlari. Doule terus berlari bahkan ketika menuruni tangga ia masih saja berlari-ia tak tahu kapan atau kenapa hal itu terjadi karena dipikarannya hanya ada 'akhirnya Grandma akan menemaniku,meninggalkan Monster itu.' Ia sungguh tak tahu kenapa ia masih berlari dan detik berikutnya Grandmanya sudah ada di bawah tangga. Dan seketika teriakan melengking dan penuh rasa kaget dan ketakutan keluar dari mulutnya.

Doule benar-benar takut,  Grandmanya terjatuh dari tangga karena dirinya. Ia tidak tahu harus bagaimana jika Daddynya tahu tentang hal ini, otaknya mencari berbagai alasan yang bisa dia katakan nanti. Dan seketika ia menyasari keberadaan saudarinya-Mare menatap takut dan juga terkejut kearahnya di ujung lain tangga itu.Lamunan Doule buyar ketika Daddynya dan beberapa tamu berhamburan keluar dari pintu ruangan tempat dimana pesta berlangsung lalu menuju kearahnya, yang sedang berdiri dengan tubuh gemetar dengan Grandmanya yang tidak sadarkan tak jauh darinya. Melihat Daddy nya, Doule segera berlari kearah Dannis-Daddynya dan memeluk kakinya. Dengan air mata yang mengalir dari sepasang Icy Blue-nya.

Setelah berhasil menenangkan dirinya, Dannis segera menelpon ambulance, dan menyuruh para pelayan untuk memberikan pertolongan pertama pada ibu mertuanya. Lalu meminta maaf pada para tamu atas kekacauaan ini dan meminta mereka untuk pulang. Lalu berjongkok untuk memeluk tubuh gemetaran putrinya. Dipeluknya putrinya dan menatap ke ujung teratas anak tangga dimana Mare berdiri terpaku dengan tatapan kosong. Dialihkan pandangannya ke arah Doule yang sedang dipeluknya. Dannis begitu khawatir dengan kondisi ibu mertuanya belum lagi dengan putrinya yang terus menangis. 

"Doule? Princess ada apa?? Apa yang terjadi?"

"Grandma... Mare..." Jawaban itu seaakan menjawab semua pertanyaannya. Ditatapnya Mare dengan rasa benci yang sudah lama menumpuk di dalam dirinya. Mare yang merasakan tatapan itu membalas tatapan Danis sebelum kembali menunduk, memutar tubuhnya dan berlari menjauh dari sana.

'Jadi semua ini karena monster itu lagi. Lihat saja nanti.'

CIEL POV

'Tatapan itu lagi. Kenapa? Kesalahan apa yang sudah kubuat? Aku... aku hanya ingin mengatakan pada Grandma bahwa.. bahwa aku akan menjadi seperti Langit seperti Cielo!'

'Disini! Hanya disanalah aku bisa merasa aman.'

Kudorong pintu ruangan itu lalu melangkah masuk. Ruangan yang begitu luas dan elegant dengan sebuah jendela besar berhiaskan tirai berwarna Royal Blue, sebuah rak buku tua yang berisi beberapa buku mengenai musik. Sebuah piano klasik mengisi pojok ruangan yang berdekatan dengan jendela.

Tenang dan Aman itu adalah hal yang selalu kurasakan tiap kali aku memasuki ruangan ini. Terlebih ketika aku memandang foto seorang wanita yang begitu cantik tersenyum dengan indahnya.

"Mom..." Aku benar-benar merindukannya. Aku bahkan tidak pernah melihatnya, Dad selalu melarangku setiap kali aku ingin ikut denganya menjenguk Mom yang katanya sedang sakit. Aku bahkan tidak tau Mom sedang sakit apa.Begitu banyak pertanyaan yang ingin kuutarakan seperti saat ini. 

"Mom, menurutmu apa aku akan bisa seperti langit? Kau tahu akau benar- benar ingin melihatmu secara langsung sekali saja. Grandma said that you really lovely and a loveable person. I really wanna see u Mom. Just once." Ya.. aku ingin melihatnya. Melihat wanita yang telah melahirkan dan menamaiku. Memikirkan tentangnya membuatku ingin menangis. Terlebih sekarang aku tak tahu bagaimana kabar Grandma. Aku ingin kembali kesana dan bertanya bagaimana keadaannya. Tapi dengan Doule and Dad there... I can't.

'U know Mom? Even Dad and Doule said they hate me. I can't hate them. Mereka keluargaku dan sekeras apapun aku berusaha untuk membenci mereka aku tidak bisa. Mom... Help me?'

"Aku sadar dengan membenci mereka, itu tidak akan merubah perasaan mereka padaku. Dan aku akan benar- benar menjadi Monster yang mereka sebut sebagai diriku. Setidaknya aku tau bahwa aku bukanlah Monster itu. And I know that I can become the Sky you want me to be, Mom.".......TBCSoal nama Cielo (sielo) atau Mare (mer) itu bernama lengkap Cielo Mare Sinclair. Arti namanya seperti yang dijabarkan diatas.Doule (doll) bernama lengkap Doule Ivy Sole.Doule nama ini terinspirasi dari kata DOLL yang berarti boneka, hanya penulisannya saja yg saya ubah.Aria Arce Sinclair atau sekarang sudah menjadi Aria Arce Sole.Danis Sole

my wattpad account

0 komentar:

Posting Komentar

 
NightCielo Blogger Template by Ipietoon Blogger Template